Cara apa yang harus
dilakukan aktor untuk menjalankan aktingnya? Rancangan itu mula-mula datang
dari citra sutradara. Tetapi selanjutnya, harus diingat, sutradara tidak
menyajikan itu lewat tubuhnya. Aktor yang tampil di depan penonton menyajikan
rancangan itu.
Ketika kita
mempertanyakan cara-cara akting, maka akhirnya kita sampai pada jawaban tentang
teknik main seorang aktor menyajikan rancangan kerjanya lewat tubuhnya. Dalam sejarah teater,
kita dapati peninggalan cara-cara yang bersinambung, kemudian jadi wawasan-wawasan
yang beraneka ragam dalam kaidah keindahan akting sampai saat ini.
Kendatipun semuanya berbeda dan cenderung mandiri, dalamnya kita tetap peroleh
sifat kegandrungan yang bertujuan sama, yakni bagaimana menciptakan tingkat
permainan yang jitu dan berkesan.
Dari sejarah itu, kita
dapat perubahan-perubahan semangat teater yang terjadi pada bentuk-bentuk
penyajian yang saling bersikeras pada pengalaman batin masing-masing. Buat
seorang aktor, ia perlu, bahkan mutlak menyusuri sejarah itu, untuk memperkaya
diri, menemukan wawasan. Wawasan tak
datang sebagai mukjizat. Wawasan datang berkat ketekunan, bergaul dengan
wawasan yang telah ada sebelumnya dalam peristiwa sejarah. Pergumulan dengan
wawasan demi wawasan menyebabkan seseorang bisa menciptakan
gagasan-gagasan baru dalam wawasannya
itu. Dan kita sadar, seni senantiasa hidup jika seniman memiliki gagasan,
merangkumnya jadi wawasan.
Wawasan yang perlu
diperhatikan aktor adalah mengenai wawasan verbal, wawasan emosional, wawasan
intelektual, dan terakhir wawasan fisikal. Keempat wawasan ini merupakan dasar-dasar
akting.
1. Wawasan
Verbal.
Telah kita katakan, drama adalah genus sastra. Maka akting dengan sendirinya
diikat pada wasilah-wasilah sastra, pada kata-kata, pada wawasan verbal. Yang
diharapkan, bagaimana aktor mencoba setia pada kata. Tentu saja ini telah
menjadi masalah paling rumit selama ini. Aktor selalu bergantung pada inten pengarang. Sastra jadi seperti
tembok. Dihancurkan, tetapi tak pernah porak-poranda. Malah tetap berdiri. Dan
itu artinya kedudukan pengarang tetap berdaulat. Aktorlah yang harus memberikan
penafsiran hidup pada kedaulatan pengarang itu. Tanpa aktor, naskah takkan
mampu bicara, merumuskan pikiran-pikiran pengarang. Peter Brook tepat
mengatakan, “Jika Anda biarkan sebuah lakon bicara sendiri ia tak akan bersuara
apa-apa”.
Adapun wawasan verbal,
ketaatan aktor pada sastra, dapat kita sorot pada dua wasilah, antara yang
bersifat epik, dan yang bersifat lirik, keduanya timbal balik.
a.
Wasilah lirik. Disini aktor berada di dalam.
b.
Wasilah epik. Disini aktor berada di
luar.
2. Wawasan
emosional.
Dulunya orang luput terhadap pelik emosi. Setelah zaman David Garrick kita
lihat mulai terbecik secara runtun hal-hal emosi. Lebih jauh, kita temui
penguasaan emosi pada realisme. Emosi dikuasai, diseleksi dalam suatu wadah
ingatan, disusun kembali dalam akting seperti rangkaian mimpi. Proses ini
sebangun dengan asas pendalaman tentang membebaskan hati terhadap masuknya perasaan
untuk bahan-bahan ilham.
Untuk itu, kepekaan
seseorang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Yang kita periksa
disini, kepekaan sumber ilham yang terdiri dari dua tataan yang bertautan,
yaitu, kepekaan yang rendah dan kepekaan yang tinggi.
a.
Kepekaan rendah. Masuk dalam bilangan
ini perasaan-perasaan indra dan naluri.
b.
Kepekaan tinggi. Ini mencakup
perasaan-perasaan etis, estetis, theologies, intelektual.
3. Wawasan
intelektual.
Teater disini bukan saja seni, tetapi ia sepenuhnya ilmu yang sangat kompleks.
Segala bentuk kebudayaan kita temui dalam teater. Dari teknologi kita
berhadapan dengan arsitektur gedung, peralatan listrik pada lampu, atau jika
perlu efek bunyi. Dari ekonomi kita berhadapan dengan system manajemen pertunjukkan,
bagaimana menjual karcis, promosi dan harus laku. Kemudian akting berpapas pada
pesikologi, sosiologi, sejarah, filsafat dan seterusnya. Maka wawasan
intelektual sifatnya analistis. Artinya, perkara intelektual, jabaran atasnya
bisa teoritis, bisa juga praktis.
a.
Jabaran teoritis. Yang didambakan disini
adalah bagaimana kecerdasan mencipta itu terselenggara dalam diri.
b.
Jabaran praktis. Dambaan teoritis tadi
kini bersifat eksekutif, yakni cara melakukan sesuatu dengan cerdas.
4. Wawasan
fisikal.
Akting diperhintungkan dengan semangat dalam gerak-gerak visual, terutama
bagian luar perasaan emosi. Tubuh secara luar adalah peraga yang menentukan
gambar-gambar hidup. Ini ada untungnya buat teater-teater baru yang bermain
dalam udara tersingkap. Penonton ditempat yang jauh dari pemain. Dengan begitu,
mereka tak bisa menikmati mimik yang tampil diwajah akibat suasana kalbu.
Sebagaimana gantinya, olah tubuh yang lentur diperbanyak frekuensinya. Tubuh
berbicara secara lahir.
Setelah zaman realisme,
ketika orang menghendaki suatu bahasa kalbu yang dalam, boleh jadi akting
fisikal ini dianggap kasar. Namun, dalam perkembangan sekarang nampak adanya trend yang hendak berjaya dengan wawasan
fisikal, perwujudan akting dengan titik-berat jasmani. Ini berawal pada teater
penemuan Artaud, Teater Kekejaman (Theatre de la Cruaute). Yang dijayakan
Artaud, oleh jasmani lewat gesture-gestur. Kata Artaud tersendiri, “Gestur
adalah satu-satunya bahasa yang paling benar”.
Dan memang benar, gestur dalam teater Artaud jadi nyaris liar dan sangar
karena gestur disana digerakkan secara magis.
Kini, modus teater
kontemporer banyak diwarnai oleh gerak-gerak fisikal Artaud. Malahan segi
verbal cenderung dihilangkan begitu saja, sehingga yang dinamakan wawancang, walaupun
asalnya dari sebuah naskah, sengaja muncrat bertubi-tubi macam nyanyian kodok.